Tuan Boing Ingin Menjadi Santo
Selo Lamatapo · 6 Desember 2025
Sumber: Tempo · tautan sumber
IA mengetuk pintu pastoran dan menunggu dibukakan baginya.
“Saya ingin bertemu Padre 1),” katanya setelah pintu itu dibuka oleh seorang lelaki paruh baya berambut putih, berkacamata, bertubuh ceking dan sedikit bungkuk. Lelaki tua itu berdiri di bawah ambang pintu, sementara daun pintu perlahan-lahan terbuka. Ia tampak tua dengan kemeja putih lusuh dan celana panjang berwarna cokelat pudar.
“Saya, Padre Manuel,” balas lelaki tua itu sedikit tenang setelah memperhatikan tamu di hadapannya. Tamu itu berusia lebih muda darinya, kira-kira empat puluhan tahun.
”Saya ingin buat pengakuan sekarang,” katanya. Ia tak ramah sama sekali. Tatapannya dingin dan menyimpan banyak rahasia. Padre Manuel memandanginya barang sejenak, lalu mengajaknya ke gereja di seberang pastoran.
“Saya tidak butuh ruang pengakuan di gereja. Saya tidak pernah lagi ke gereja,” ujarnya. Padre Manuel memperbaiki kacamatanya, lalu menatap pria bertubuh gempal dan pendek di hadapannya. Hatinya tiba-tiba menaruh iba melihat pria berpenampilan tak karuan itu. Di benaknya, ia berkata bahwa Tuhan telah memanggil pria itu pulang seperti kisah anak yang hilang dalam Alkitab tuanya.
“Baik. Di sini saja.” Padre Manuel membuka pintu ruang televisi dan menyilakan pria masuk. Tidak ada pilihan lain selain ruangan itu. Ia masuk ke kamarnya, mengambil stola ungu dan sebuah salib, kemudian kembali menemui pria itu. Ia baru saja duduk dan belum sempat mengenakan stola ungu ketika pria itu meletakkan sebuah pistol di atas meja. Mereka duduk berhadap-hadapan. Pria itu sedang tidak main-main.
“Jangan teriak apa pun.” Ia mengancam. Matanya benar-benar menyimpan banyak luka.
“Saya baru saja kembali dari rumah Tuan Boing,” kata pria itu dingin. Matanya memastikan Padre Manuel boleh menebak-nebak niatnya.
“Saya diminta untuk membunuh Tuan Boing, tetapi ia tidak ada di rumah. Hanya ada istrinya yang sedang hamil.” Ia berkata begitu saja seolah membunuh adalah pekerjaan mudah. Saat itu juga, pikiran Padre Manuel sepenuhnya ke keluarga Tuan Boing. Ia baru saja mengunjungi keluarga itu minggu lalu. Tuan Boing adalah ketua wilayah itu. Ia terkenal dalam banyak kejahatan. Dan istrinya, Dona Rosa, tengah mengandung putra ketiga mereka. Usia kandungan itu enam bulan lebih. Diam-diam, Padre Manuel membayangkan darah tumpah ruah dan kematian yang sia-sia tanpa perlawanan.
“Saya tidak tega membunuh perempuan itu.” Pria di hadapannya terdengar sedikit halus. Perkataan itu membuat Padre Manuel merasa sedikit tenang. Ia tidak menyangka bahwa pria urak-urakan di hadapannya ternyata memiliki belas kasih. Mungkin inilah alasan Tuhan membawanya ke sini, batinnya.
“Saya ingin pulang ke wilayah saya. Saya butuh uang!” Nadanya kembali tegas dan serius. Sorot matanya penuh ancaman, seperti mata lampu di penjara. Padre Manuel merogoh saku celananya dan mengambil dompet cokelatnya. Ia meletakkan dompet itu di atas meja, di dekat pistol hitam.
“Hanya ini yang ada pada saya. Saya tidak punya apa-apa lagi. Ambil saja berapa pun uang dalam dompet itu. Jika masih kurang, ambil saja semua barang di sini yang boleh diuangkan.” Padre Manuel berkata terus terang, tetapi itu terdengar sangat pasrah. Ia sudah berulang kali menghadapi masalah serupa di wilayah pelayanannya yang penuh risiko. Karena itu, ia selalu membawa dompetnya di saku celana ke mana pun ia pergi ataupun sedang berada di pastoran, walau ia tak memiliki banyak uang. Penampilannya tampak miskin. Barang-barang di pastoran itu pun milik paroki, tempat ia bekerja melayani umatnya.
Ia menyadari bahwa orang-orang yang datang kepadanya adalah mereka yang benar-benar tidak mengetahui dirinya. Kepala mereka dikerubungi uang. Karena itu, ia telah meyakinkan dirinya untuk tidak pernah melawan mereka; cukup dengan memberikan uang, dan mereka akan pergi. Jika tak punya cukup uang, mintalah mereka mengambil semua barang yang dapat diuangkan.
“Saya hanya butuh ini,” kata pria itu sambil menunjukkan dua lembar uang kertas; selembar 100 reais 2) dan selembar lain 50 reais. Ia menyisakan 50 reais lainnya di dalam dompet kulit itu. Dua lembar uang kertas itu ia lipat dan dimasukkannya ke dalam saku baju. Kemudian, ia mengambil kembali pistol, dan mengatur lagi posisi duduknya.
“Jangan pernah katakan kepada siapa pun! Nyawamu akan menjadi taruhannya!” Kali ini ia benar-benar menodongkan pistol hitam itu ke jidat Padre Manuel. Sesudah itu, ia keluar tanpa pamit, meninggalkan Padre Manuel sendirian.
MALAM harinya, Padre Manuel pergi ke rumah Tuan Boing. Ia ingin memastikan keluarga itu selamat. Tuan Boing menerimanya dengan pelukan, sementara Dona Rosa tengah menyiapkan makan malam.
Ketika sedang santap malam bersama, Padre Manuel mengingatkan Tuan Boing agar selalu berhati-hati.
“Dona Rosa sudah menceritakan kejadian hari ini, Padre.” Tuan Boing mengambil tisu makan, membersihkan mulutnya yang berminyak, kemudian menuangkan cerveja 3) ke dalam dua gelas di atas meja makan. Ia menyerahkan segelas kepada Padre Manuel dan segelas lain untuknya.
“Saya tidak tahu dia dari wilayah mana, tetapi saya tahu orangnya.” Ia meneguk cerveja itu dengan sekali tegukan serupa menghabisi orang-orang dalam sekali tembakan.
“Anda telah membuat saya bertobat dan saya sudah menjauhi dunia penuh darah ini, Padre. Tapi, rupanya, pertobatan selalu membawa ancaman.” Tuan Boing tersenyum mengakhiri kalimatnya itu.
Malam itu juga, Padre Manuel menceritakan kisah pertobatan Santo Paulus dalam Alkitab tuanya.
“Ia membunuh pengikut Kristus, tetapi Kristus membuatnya bertobat. Lalu, ia berjuang mati-matian membela dan mewartakan kisah tentang Kristus sampai menjadi santo,” tuturnya.
Malam itu adalah malam penuh kisah pertobatan.
DUA hari setelah itu, hari Minggu, Tuan Boing datang ke pastoran pagi-pagi sekali seperti Maria pada waktu mengunjungi makam Kristus. Ia mengetuk pintu rumah pastoran. Ia tahu, Padre Manuel telah bangun karena harus merayakan ekaristi pagi.
“Saya perlu pengakuan,” katanya. Padre Manuel menatapnya tanpa berkata apa-apa. Hari masih terlalu pagi. Di ruang televisi, di ruangan yang sama setiap kali ada pengakuan, Tuan Boing meletakkan pistolnya.
“Saya telah menembak pria itu. Dan ini uang 150 reais milikmu, Padre.” Ia meletakkan dua lembar uang kertas di meja yang sama. Lalu, ia meminta ampun. Padre Manuel tak berkata apa-apa. Ia memandangi uang itu, dan mendapati uang itu bukan miliknya.
“Saya menjagamu dan keluarga saya, Padre. Apakah saya layak disebut santo?”
Padre Manuel berusaha sekuat mungkin mengingat apa yang ia katakan kepada Tuan Boing saat makan malam dua hari yang lalu, tetapi ia sungguh tak mengingat hal lain, selain kisahnya tentang pertobatan Santo Paulus.