Xretia, Suatu Hari di Masa Depan
Aveus Har · 27 Juni 2025
Sumber: Kompas · tautan sumber
Aku bangun; tidak lebih tepatnya aku dibangunkan di waktu yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Kapsul tidurku bergetar dan suara Aspri—asisten pribadi yang berupa kecerdasan artifisial—berulang-ulang menyuruhku membuka mata. Suara itu berhenti ketika mataku melek. Namun, getar kapsul tidur belum akan berhenti sebelum aku beranjak. Aku bangun, tetapi aku tahu bahwa aku hanya akan mengulangi semua yang aku lakukan hari-hari sebelumnya. Seperti epigraf pada sebuah prasasti yang ditulis penyair kuno: hidup hanya menunda kekalahan. Siapa nama penyair kuno itu?
“Chairil Anwar,” kata Aspri.
“Aku melarangmu membaca pikiranku!” aku berseru.
“Aku tahu; tapi sebelum usia tujuh belas, orang tuamu yang bisa melakukan itu.”
“Aku sudah tujuh belas.”
“Kurang sepuluh jam tiga puluh tiga menit.”
“Aku akan mematikanmu saat itu.”
“Sebaiknya kau segera menuju ruang olah raga.”
“Aku tidak ingin melakukan apa-apa.”
“Kau baik-baik saja?”
“Tidak.”
“Minumlah biofeel.”
“Aku tidak ingin obat itu.”
“Kau harus. Ada ketidakseimbangan biokimia dalam tubuhmu dan jika kau tidak menyeimbangkannya maka kau akan terus merasa tidak baik.”
“Untuk apa aku merasa baik?”
“Agar hidupmu menyenangkan.”
“Jadi, manusia hidup untuk menyenangkan diri?”
“Menurut hedonisme, tujuan hidup manusia adalah untuk mencapai kebahagiaan dan kesenangan. Kebahagiaan dapat diperoleh dengan memuaskan keinginan dan hasrat.
“Stoikisme mengajarkan bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk hidup sesuai dengan alam dan mencapai kebijaksanaan. Kebijaksanaan dapat diperoleh dengan mengendalikan emosi dan memiliki sikap yang tepat terhadap kehidupan.
“Eksistensialisme mengajarkan bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk menciptakan makna dan tujuan hidup sendiri. Manusia memiliki kebebasan untuk memilih dan menciptakan hidupnya sendiri.
“Humanisme mengajarkan bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk mengembangkan potensi manusia dan mencapai kebahagiaan. Kebahagiaan dapat diperoleh dengan mengembangkan kemampuan dan bakat.
“Dalam perspektif agama, tujuan hidup manusia adalah untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan di akhirat. Keselamatan dapat diperoleh dengan melakukan perintah agama dan menjauhi larangan.
“Secara umum, tujuan hidup manusia adalah untuk mencapai kebahagiaan, keselamatan, dan kebijaksanaan.”
“Aku pernah bilang, aku tidak suka jawaban panjang seperti itu. Jika aku ingin mengetahui filsafat, aku akan mencarinya.”
“Aku akan mengingatnya.”
“Jadi, untuk apa sesungguhnya hidupku?”
“Untuk menghabiskan waktu.”
“Nah, itulah jawabannya.”
Aku bangkit. Sepuluh jam ke depan usiaku tujuh belas tahun. Betapa lamanya aku hidup. Dan hidup selama tujuh belas tahun itu rasanya membosankan. Aku tidak merasa perlu melakukan segala rutinitas lagi kali ini.
Di ruang olah raga sudah ada semua anggota keluargaku. Mereka semua berkeringat. Mereka semua bersemangat. Dari audio ruangan mengalun lagu bertempo cepat. Aku duduk di kursi, meneguk air.
Jadi, untuk apa sesungguhnya hidupku?
Mereka sedang berolahraga sambil berbincang di saluran masing-masing; dengan individu-individu yang ditemukan algoritma.
“Kau harus berolahraga,” suara Aspri kembali berkata.
“Tidak bisakah kau diam dan membiarkanku melakukan apa pun yang aku mau?”
“Olah raga akan membuang kalorimu yang berlebih dan meningkatkan metabolisme tubuh. Olah raga juga ....”
“Diam! Aku tahu semua itu!”
“Baiklah.”
“Bisakah kau nonaktifkan dirimu?”
“Itu harus dengan persetujuan orang tua. Apakah kau mau aku mengirim notifikasi ke mereka?”
Aku diam. Tubuhku rasanya bergolak. Seperti ada magma yang hendak mendobrak keluar. Tapi aku bukan gunung. Aku juga tidak merasa ingin muntah. Aku hanya merasa tidak baik-baik saja.
Tidak, aku tidak ingin meminum biofeel. Aku hanya ingin mengerti apa yang sedang terjadi dalam diriku dan mengapa aku harus selalu menyeimbangkan biokimia dalam tubuh untuk tidak merasakan hal-hal semacam ini.
Aku beranjak, kembali ke kamar, dan membuka perpustakaan virtual. Sudah lima hari aku menjelajahi sejarah umat manusia, dan aku hanya mempunyai satu kesimpulan: Manusia sudah selesai. Ini bukan soal apa yang harus kita kerjakan. Ini soal keberadaan.
Arzeti Azizah untuk Kompas
Aku menjelang tujuh belas tahun dan selama waktu yang sedikit ini pun tidak ada sesuatu yang layak untuk terus dijalani. Bagaimana menjalani semua ini dalam waktu bertahun-tahun, bahkan selamanya?
“Kau tidak membuka saluranmu?” tanya Aspri.
“Tidak.”
“Ada banyak notifikasi untuk terhubung.”
“Aku tidak ingin terhubung.”
“Kau ada masalah?”
Sandaran kursi mundur lima belas derajat. Aku memutuskan koneksi dengan perpustakaan virtual.
“Sejak lima hari lalu aku melihat masa lalu yang jauh,” kataku.
“Ya. Apakah kau ingin memperdalam pengetahuanmu pada topik yang spesifik?”
“Ya. Mengapa manusia mengembangkan semua ini?”
“Untuk kemerdekaan.”
“Kemerdekaan dari alam?”
“Benar.”
“Dan semua yang alamiah sekarang hanya ada dalam tumpukan literatur kuno; yang tersisa artifisial, sintetis, teknologis, mekanis ....”
Proyek Gilgamesh memang belum selesai; masih ada perdebatan perihal etika dalam pengaplikasian hasil akhir proyek ini ke masyarakat. Proyek akhir Gilgamesh telah menemukan serum anti-penuaan sel tubuh dan rekayasa genetika yang menjadikan manusia sebagai mahluk amortal—bukan imortal—sehingga secara alami tidak ada penuaan dan kematian.
Namun, untuk apa kehidupan?
Aku berdiri di depan cermin mengambang, memandangi pantulan diriku yang tidak ada beda dengan manusia-manusia lain. Aku dikenali hanya di saluran media sosial sebagai sebuah akun. Namun, siapa sesungguhnya aku? Siapa sesungguhnya orang tuaku? Siapa sesungguhnya keluarga dan teman-temanku?
Ayah telah ke kantor. Ibu telah ke kantor. Tapi, di mana kantornya? Di saluran. Dan aku akan berangkat sekolah juga di saluran. Di media itu semua aktivitas dilakukan. Sementara di sini, di rumah ini, secara fisik semua tetap tinggal.
Terkadang aku memang keluar rumah untuk urusan tertentu. Namun, aku hanya bergerak cepat dalam lorong seperti halnya manusia-manusia lain dan meskipun mungkin kami terhubung di saluran, secara fisik kami tidak saling mengenali.
Aku teringat bocah-bocah yang berlarian di atas rumput dinaungi rindang pohon. Aku teringat orang-orang bercengkerama dan berbincang intim. Aku teringat kesibukan-kesibukan kerja mereka. Tentu juga penyakit-penyakit, kecelakaan, perang. Itu semua ada di zaman kuno, dalam literatur.
Semua berawal dari imajinasi.
Pada peradaban yang jauh, sebuah karya imajinatif menceritakan manusia raja yang berkehendak mencari keabadian, tetapi diberitahu bahwa keabadian itu tidak ada. Imajinasi modern menguak bukti-bukti ilmiah bahwa keabadian itu mungkin. Proyek Gilgamesh dilakukan tanpa publikasi seolah hanya konsep fiktif, tetapi secara terpisah ilmuwan terus melakukan berbagai penelitian.
Rekayasa genetika, bioteknologi, pengobatan penyakit, teknologi anti penuaan, dan robotika telah bergerak hingga sampai pada titik masa di mana kita kini menyebutnya sebagai transhumanisme teknologi tinggi. Kita mencapai itu; hanya tinggal selangkah lagi untuk diizinkan mengaplikasikan kehidupan imortal dan tidak akan ada lagi kematian.
Sebaiknya turuti ibumu.
Namun, untuk apa kehidupan?
“Xretia, kau harus minum biofeel,” kata Ibu di saluran darurat. “dan buka saluran publikmu.”
“Tidak. Aku tidak ingin melakukan itu hari ini.”
“Itu akan membahayakanmu.”
“Tidak masalah.”
“Pemerintah global akan mengambil tindakan. Ibu sudah mendapat notifikasi peringatan.”
Indikator level gairahku mendekati titik kritis.
“Sebaiknya turuti ibumu,” kata Aspri.
“Jangan ikut campur!”
“Kami menjagamu.”
“Aku tidak butuh penjagaan.”
Sepanjang hari ini aku melakukan semua seperti biasa: membuka saluran dan berinteraksi sosial, bermain secara virtual, berbincang—meskipun aku lebih banyak diam, melakukan tugas Departemen Talenta yang memasukkan aku dalam bidang Estetika; tetapi aku tidak meminum biofeel dan aku mengalami sensasi tubuh yang tidak kupahami.
Apa sesungguhnya mood? Mengapa mood harus distabilkan?
“Agar hidup manusia menyenangkan.”
“Apakah kita tidak membutuhkan hal lain selain perasaan senang?”
“Tidak lagi. Perasaan tidak menyenangkan berfungsi pada peradaban lampau untuk bergerak ke peradaban yang lebih baik; kita telah berada pada peradaban yang tidak membutuhkan perasaan lain selain kesenangan.”
Pikiranku masih berkecamuk.
“Minumlah biofeel. Neurotransmitter dan hormon dalam tubuhmu semakin kritis.”
Aku tidak peduli.
Berita mengabarkan Pemerintah General telah menyetujui proyek Gilgamesh tahap akhir. Manusia akan menjadi imortal—bukan amortal—yang artinya tidak akan ada lagi kematian, kecuali oleh hal-hal di luar sistem tubuh.
Sementara aku justru memimpikan masa kuno. Aku ingin menjadi manusia purba seperti mereka. Aku tidak mau menjadi transhuman.
Notifikasi peringatan pemerintah masuk ke saluran darurat. Aku tahu pada akhirnya aku akan menghadapi ini.
“Pemerintah General menemukan ketidakstabilan emosi Anda yang berpotensi subversif. Anda mempunyai waktu dua menit untuk menstabilkan. Jika tidak dipenuhi, Pemerintah General akan mengambil tindakan.”
Dua menit.
Usiaku akan tepat tujuh belas tahun beberapa detik lagi. Aku bisa lebih cepat dari respon pemerintah.
Sekarang.
“Nonaktifkan sistemmu,” kataku pada Aspri.
“Kau serius? Tanpa Aspri kau akan kesulitan menjalani hidupmu.”
“Aku tidak peduli.”
“Baiklah.”
Aspri menghitung mundur untuk penonaktifan. Aku melihat cermin virtual. Apakah aku manusia? Aku ingat sosok manusia lampau dalam perpustakaan. Aku, kami, kita, apakah masih manusia dengan segala mesin yang menempel di tubuh?
Seketika Aspri mati, aku melepas mesin-mesin. Suara peringatan subversif menggema. Aku tahu, aku akan dihancurkan atas dakwaan pembangkangan; tetapi, apa aku peduli?