Yang Terjadi Setelah Senja
Arie Fajar Rofian · 4 Juni 2025
Sumber: Kompas · tautan sumber
Langit terik bersorak panas, membakar apa pun yang berada di bawah naungannya. Matahari yang menggantung di atas tak mengenal belas kasihan; sinarnya tajam dan menusuk-nusuk dari atap beton gedung perkantoran hingga kulit-kulit yang berseliweran di permukaan yang kian lama kian legam. Sementara, asap knalpot beragam kendaraan bermotor memanjat pelan, sekaligus berlomba-lomba menggapai udara, lalu larut dalam pekat beraroma mesin terbakar.
Jalan raya gemetar oleh deru mesin dan suara klakson yang bersaut-sautan seolah tak sabar ingin tiba ke tempat tujuan lebih dulu, aspal terasa seperti kawah hitam yang mendidih dan enggan dijejaki oleh siapa pun—tetapi terpaksa dijejaki. Orang-orang berlalu-lalang serupa sekumpulan semut yang hendak mengerumuni remah makanan, sibuk dengan tuntutan angka-angka yang berkelebat di kepala demi bertahan hidup.
Di antara kesemrawutan itu, Budi berdiri di permukaan trotoar, merapatkan diri ke arah bayangan papan reklame yang berisi ucapan selamat atas dilantiknya Presiden dan Wakil Presiden yang baru. Ucapan selamat yang dibarengi harapan-harapan yang nyaris tak masuk akal, terlalu normatif dan mengada-ada lantaran harapan yang sama juga kerap digaungkan setiap berganti pemerintahan, tetapi tidak ada yang benar-benar menjadi nyata.
Kaus berwarna putih dengan gambar pasangan calon presiden beserta nomor urutnya melekat di badan Budi, beberapa bagian sudah terkena lunturan dan bercak hitam sehingga tampak lebih mirip seperti kain pel ketimbang pakaian. Celananya robek di lutut kiri, warnanya tak jelas apakah benar-benar abu-abu atau hanya abu-abu dikarenakan dekil yang menumpuk selama bertahun-tahun. Entah. Topi usang bertengger di kepala Budi, menahan rambutnya yang keriting agar tidak ke mana-mana, yang memberontak setiap kali angin berembus usai kendaran melintas kencang di hadapannya.
Di tangan Budi, tergenggam gitar tua dengan senar yang tak lagi utuh dan sempurna. Senar nomor dua sudah tak ada, senar nomor lima tak lagi mengeluarkan suara, dan senar nomor tiga hanya mampu mengeluarkan bunyi lemah jika dipetik keras-keras. Gitar yang lebih mirip bongkahan kayu dengan semacam tali yang diikat seadanya, mengalungi leher Budi yang licin akibat keringat berlebih.
Namun, gitar tua tersebut sudah lebih dari cukup bagi pria berusia dua puluh tiga tahun itu, bahkan terlalu mewah mengingat beberapa bulan yang lalu dia hanya bermodalkan alat musik buatan tangan seadanya berupa kecrek yang dirakit menggunakan beberapa tutup botol minuman ringan berbahan kaleng yang dipipihkan lalu dipaku pada permukaan kayu berukuran kecil.
Lampu lalu lintas menyala merah, Budi segera mengangkat gitar tuanya, kemudian berlari mendekati barisan kendaraan bermotor yang terpaksa berhenti dari segala ketergesaan. Sedan mewah berkelir hitam, seorang sopir duduk di depan, sedangkan majikannya pria paruh baya berjas sedang membaca koran di kursi belakang dan tampak tak tertarik dengan keadaan di sekitarnya, demikian Budi menyimpulkan usai berdiri lebih dekat. Berdasarkan demografi tersebut, Budi sudah menyiapkan lagu yang cocok untuk dinyanyikan: Can’t Smile Without You.
Tatapan khas matanya masih yang lama. Kau ajak bicara, seketika ku kembali jatuh cinta. Sialan dia, sakit dan air mata sia-sia.
Budi mulai memetik gitarnya, memainkannya semacam kebiasaan yang terus diulang-ulang, bukan karena dia ahli dalam bidangnya, melainkan lebih kepada tak punya pilihan selain melakukan hal tersebut. Suaranya serak, tidak lebih bagus dari dentingan senar gitar yang dipetiknya, mengadu nyaring dengan suara mesin kendaraan yang berdesing—terutama suara mesin bus tua yang berada di barisan terdepan. Sopir sedan berkelir hitam melirik sebentar ke arah Budi, lalu mengangkat telapak tangannya, tanda tak berkenan memberinya uang.
Budi berbalik badan dan nyaris meninggalkan sedan itu sebelum mendengar suara kaca jendela bagian belakang diturunkan.
“Ini karena pilihan lagunya, bukan karena suaramu yang sangat apa adanya itu,” ucap si pria paruh baya sembari menyerahkan uang lima puluh ribu rupiah yang diterima Budi dengan senang hati dan mata yang berbinar-binar. “Kamu tahu siapa yang pertama kali menyanyikan lagu itu?”
“Barry Manilow, rilis tahun 1978 dalam album Even Now.”
“Sepertinya kamu masih harus belajar lebih banyak lagi, Anak Muda. Tapi, saya mengakui bahwa pengetahuan musikmu cukup lumayan, setidaknya untuk ukuran orang-orang seusiamu.”
“…” Budi tak sempat menanggapi.
Kaca jendela bagian belakang mobil sedan menutup secara perlahan, dan pria paruh baya itu kembali membuka lembaran koran, tanpa menjelaskan lebih jauh arti di balik kalimat terakhirnya; kembali bertingkah tampak tidak tertarik dengan keadaan di sekitarnya. Budi hanya tersenyum menanggapi hal itu, menyadari jawabannya yang barangkali keliru atau kurang tepat.
Beberapa orang yang sedang menyebrangi jalan memperhatikannya sejenak, lalu meneruskan perjalanan tanpa menoleh lagi. Mereka terburu-buru, tak perlu larut dalam interaksi antara seseorang berpakaian necis di dalam mobil mewah dengan seorang pengamen bertampang lusuh. Meski anomali, hal itu kerap terjadi kapan saja, di mana saja; tak ada yang terlalu istimewa.
Lampu lalu lintas masih menyala merah, Budi beranjak menghampiri pengendara sepeda motor berjenis skuter, seorang perempuan muda berhijab dengan helm bogo yang mengenakan kaus polos disertai kardigan rajut berwarna mencolok, celana jin, dan sepasang sepatu sneakers bermerek Converse. The Nuruls, simpul Budi sekenanya, merujuk dari cara berpakaian perempuan dengan kacamata bulat itu.
“Sepertinya sama ….”
“Tatapan khas matanya masih yang lama. Kau ajak bicara, seketika ku kembali jatuh cinta. Sialan dia, sakit dan air mata sia-sia,” perempuan muda itu menyambung lirik yang dinyanyikan oleh Budi, turun dari sepeda motornya, lalu berjoget sambil melakukan live di akun media sosialnya. Dia merasa seperti menemukan teman di tengah antrean kendaraan yang menunggu lampu merah.
Lampu lalu lintas berganti hijau. Seperti penantian panjang yang tak boleh terlewatkan, para pengendara di belakang mereka segera menekan klakson, sebagian menyerukan cacian mengingat panas yang terus menyengat. Si pengendara sepeda motor skuter hanya menyeringai canggung, kembali duduk manis di jok kendaraannya. Lalu, perempuan muda itu melesat, meninggalkan Budi beserta kemacetan tanpa sepeser rupiah pun yang berpindah tangan.
Detik berganti menit, menit berganti jam, tanpa terasa senja mulai merayap. Langit berubah warna, cerah menjadi muram yang tak tertahankan, tetapi jalan raya tetap bergemuruh. Satu lagu lagi, dan setelah ini dia akan mengakhiri aktivitas bersama gitar tuanya, Budi menetapkan demikian dalam hatinya. Maka, pada nyala lampu merah terakhir, dia menaiki bus antar kota yang sesak dan dipenuhi bau keringat, hendak membawakan lagu favoritnya.
Tanpa salam, tanpa kata pembuka, terlebih kalimat basa-basi panjang yang berharap belas kasihan dari para penumpang bus, tetapi tak ingin didengar oleh siapa pun: Budi langsung menyajikan penampilan pamungkasnya. Penampilan bergairah, menggebu-gebu, dan penuh semangat, seolah-olah dia bernyanyi tanpa bisa bertemu hari esok.
“Oke gas oke gas. Tambah dua torang gas.”
***
Di permukaan trotoar yang kotor, di mana debu dan harapan berbaur, Budi duduk sambil melepaskan gitar yang mengalungi serta membebani lehernya. Dengan napas yang dalam, dia menyudahi segala hal yang berkaitan dengan jalan raya yang terhampar di hadapannya. Sejenak menatap langit yang perlahan kehilangan cahaya dan didominasi kelabu, mengisyaratkan akhir dari sebuah hari yang panjang.
Pulang bukanlah tujuan selanjutnya usai senja berhasil menyapa. Budi berdiri dari permukaan trotoar, berjalan cepat meski tidak tergesa-gesa, menelusuri gang kecil untuk membersihkan diri di sebuah toilet umum di dekat pemukiman yang padat penduduk, tempat di mana dirinya bertransformasi. Dari balik papan pintu toilet yang lapuk dimakan rayap, Budi gesit membersihkan tubuhnya, mengganti pakaiannya, menatap cermin sambil memantaskan diri pada dunia yang segera dijajakinya.
Tak sampai lima belas menit, Budi muncul dengan pakaian yang sama sekali berbeda, tak mendefinisikan dirinya ketika senja belum tiba dan dia terjebak bersama gitar tuanya yang tak sempurna. Kemeja flanel berwarna cerah, sepasang sepatu Air Jordan 1, dan celana kargo yang di salah satu sakunya tersimpan ponsel keluaran terbaru membalut tubuh Budi; mengemas ulang dan memberinya nilai tambah yang signifikan.
Ini karena pilihan lagunya, bukan karena suaramu yang sangat apa adanya itu.
Berjarak dua kilometer dari tempatnya berganti pakaian, aroma kopi dan bermacam-macam kue yang menggoda menyambut kedatangan Budi. Di ruangan yang bergaya klasik itu, Budi menyaksikan orang-orang tampak terkurung oleh rutinitas kaum urban yang tiada habisnya: kopi di satu tangan, gelak tawa yang dibuat-buat agar menarik atensi orang lain, serta percakapan kosong yang tak bermakna apa-apa kecuali sekadar mengisi waktu yang tidak pernah benar-benar luang.
“Selamat malam, Kak Budi,” sapa seorang perempuan berwajah manis yang berdiri di depan mesin kasir. Sapaan yang hangat, menandakan bahwa itu bukanlah kali pertama mereka bertemu. “Tumben jam segini sudah datang, biasanya agak malam.”
“Kebetulan saya baru bertemu klien di dekat sini,” jawab Budi tanpa bermaksud berdusta, menganalogikan orang-orang yang ditemuinya, baik di dalam mobil, bus atau pun sepeda motor adalah klien baginya.
“Oh, begitu. Mau pesan apa hari ini, Kak Budi?”
“Seperti biasa, almond croissant dan caramel macchiato.”
“Baik, akan segera disiapkan.”
Usai membayar pesanannya, Budi memilih tempat duduk di salah satu sudut teramai kafe dengan atmosfer yang hangat itu. Sebelum duduk, Budi mengeluarkan Iphone yang memiliki tiga lensa kamera berukuran mencolok dari saku celananya, meletakkannya di permukaan meja. Sebuah penegasan bahwa dia memang layak berada di tempat itu, merayakan sesuatu yang lebih dari sekadar penampilan.
Sambil menunggu pesanannya datang, Budi menatap lurus, mengamati dari kejauhan seorang perempuan yang berdiri di meja kasir dan tadi sempat membuat dadanya berdebar-debar. Perempuan yang menjadi alasan utama Budi mengunjungi kafe itu setiap malam, memesan menu yang sama karena itu adalah menu yang direkomendasikannya saat kali pertama berkunjung.
Budi tahu dan sadar, besok ketika matahari terbit, dan langit menyala terang, dia akan kembali menelusuri jalan raya yang bising dan berdebu sambil memetik gitar tuanya, mengais rupiah yang mungkin tak seberapa. Di lain sisi Budi pun tahu dan sadar, tak ada salahnya menikmati fatamorgana yang semu meski hanya untuk sesaat. Setidaknya, begitulah cara dunia bekerja.